slider ngaji

Selasa, 27 November 2012

MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN METODE BCM ( BERMAIN CERITA MENYANYI ) .

MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN METODE BCM ( BERMAIN CERITA MENYANYI ) . Belajar itu penting. Mengaji itu penting. Disiplinitu penting. Siapa yang berkata seperti itu? Jawabannya mudah saja : orang dewasa! Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang berbentuk mini. Adalah hal yang lumrah jika anak-anak belum memiliki kesadaran setinggi itu. Bagi mereka yang penting adalah kenyamanan psikologis, kasih sayang, penghargaan, keceriaan, kegembiraan, enjoy…! Inilah yang membuat mereka bahagia. Memang, bagi anak-anak suasana hati lebih penting daripada substansi norma ajarannya. Dua pokok pikiran di atas kedengarannya seperti sebuah paradoks, yang satu mementingkan suasananya, yang satu lagi mementingkan isisnya. Yang satu mementingkan kehariiniannya, yang lain menanamkan keesokannya., yang satu berusaha menghindari beban-beban yang berat, yang satu menekankan betapa pentingnya bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.. Bagaimana mengkompromikan dan menemukan titik temu keduanya? Inilah persoalannya. Harus disadari bahwa keinginan orang dewasa bila ingin mencapai sasaran, harus dicapai dengan memperhatikan tuntutan jiwa anak-anak. Semua hal di atas menjadi pijakan bagi gagasan bahwa proses belajar mengajar pada anak-anak akan sangat efektif bila dikembangkan melalui pendekatan happy learning, dengan metode BCM ( Bermain, Cerita, Menyanyi ). BERMAIN Para ahli mengatakan bahwa tidak terlalu mudah untuk mendefinisikan pengertian mengenai bermain secara tepat. Namun secara umum,bermain sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan dengan spontan dan dalam suasana riang gembira. Garvey dalam salah satu tulisannya mengemukakan adanya lima pengertian yang berkaitan dengan bermain,yaitu: 1. Bermain adalah sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak 2. Bermain tidak memiliki tujuan ekstrinsik,namun motivasinya lebih bersifat intrinsik. 3. Bermain bersifat spontan dan suka rela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak. 4. Bermain melibatkan peran aktif keikutsertaan anak. 5. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti misalnya :kemampuan kreatifitas, kemampuan memecahkan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya. Pengertian ini menggambarkan bahwa apabila kegiatan bermain menyenangkan,maka anak akan terus melakukannya, namun bila sudah tidak menyenangkan maka anakpun akan menghentikan permainan tersebut. Klasifikasi Bermain. Klasifikasi permainan ditinjau dari beberapa sudut pandang : 1. Sumber kebahagiaan : a. Permainan aktif : sumber kebahagiaan dari diri sendiri saat ia melakukan permainan tersebut. b. Permainan pasif : sumber kebahagiaannya dari orang lain, contohnya mendengarkan dongeng, menikmati musik dll. 2. Fungsinya : a. Permainan intelegensi, misalnya : menerjemahkan sandi, puzzle, kuis Islami, dll. b. Permainan rekreatif, misalnya : aneka permainan tepuk, shodaqoh berantai dll. 3. Jumlah peserta. a. perorangan : KKM (Kegitan Kreatif Mandiri) b. kelompok : jihad, bisik berantai,dll c. massal : lingkaran sholat, elang dan induk ayam. 4. Tempat : a. out door ( di luar ruangan / kelas ) b. in door ( di dalam ruangan / kelas ). 5. Sifat permainan : a. Kompetitif : permainan yang dilombakan. b. Konstruktif : permainan membangun. c. Destruktif : permainan membongkar. Manfaat Permainan. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan bermain, antara lain : 1. Manfaat fisik. 2. Manfaat terapi. 3. Manfaaat edukatif 4. Manfaat kreatif. 5. Manfaat pembentukan konsep diri. 6. Manfaat sosial. 7. Manfaat moral. Menentukan permainan sebagai media pendidikan. Seorang pendidik / pengasuh anak-anak yang kaya akan permainan dan kreatif akan mudah akrab dengan peserta didiknya. Namun hal ini belum menjamin bahwa ia akan berhasil membawa peserta didiknya mencapai tujuan pendidikan yang sempurna atau total. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mampu memilih media permainan yang tepat dan efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang diinginkan sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh lembaga. Hal yang perlu diperhatikan dan diingat dalam memilih permainan sebagai media pendidikaan antara lain : 1. Keselarasan antara materi dengan jenis permainan. 2. Kondisi anak didik. 3. Kondisi lingkungan 4. Kegiatan terdahulu / variasi permainan CERITA “ Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-qur’an ini kepadamu,….”. Dari penggalan Al Qur’an surat Yusuf ayat 3 diatas, dapatlah diambil pelajaran bahwa secara implisit Allah menyebut Al-Qur’an dengan ‘kumpulan cerita yang paling baik’. Maksudnya dalam mengajak manusia kedalam keimanan dan ketaatan kepada robbnya, Allah pun menggunakan metode yang menyentuh hati nurani,yaitu cerita / kisah-kisah. Hikmah yang dapat diambil atas sebuah cerita / peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu adalah sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk kita berikhtibar atas peristiwa itu. Allah berfirman, “faq shulshil qoshosho la’allahum yatafakkaruun.” Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’rof 176). Dengan demikian, secara khusus Allah hendak mengajarkan kepada Rosulullah dan tentu juga kepada para pengikutnya yang setia,bahwa cerita adalah metode tarbiyah yang paling tepat dan efektif untuk mengajar manusia berbuat baik (akhlakul karimah) tanpa merasa digurui. Karena itulah Allah sering kali menggunakan tamsil-tamsil, perupamaan, pelukisan-pelukisan untuk mengajar manusia menuju ketaatan syariat, antara lain diambil dari dunia binatang dan tumbuhan yang dilukiskan dalam Al Qur’an dengan bahasa yang indah dan mempesona. Mengingat begitu besarnya perhatian Allah pada metode bercerita ini tentu wajar jika terbersit pertanyaan dihati kita,mengapa metode bercerita ini efektif sekali? Jawabnya adalah pertama, cerita umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni,sehingga pada kebanyakan hal, cerita yang kita dengar dimasa kanak-kanak dulu masih bisa kita ingat dengan utuh berpuluh-puluh tahun. Kemudian., yang kedua, melalui cerita manusia diajarkan untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus dikhutbahi dengan segerobak nasihat yang berkepanjangan. Uraian diatas menggambarkan bahwa cerita sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Sebagai konsekwensinya kita sebagai pengasuh /pendidik anak-anak yang sangat menggandrungi terbitnya generasi robbani dengan kesholihan amal dan luasnya pengetahuan mereka, harus merasa ikut diperintah Allah untuk menebar dan mengajar manusia dengan kesantunan tutur lewat cerita ini. Fungsi Cerita 1. Sarana kontak batin antara pendidik dan anak didik. 2. Pendidikan imajinasi / fantasi. 3. Pendidikan emosi (perasaan) anak didik. 4. Sarana pendidikan bahasa anak didik. 5. Membantu proses identifikasi diri / perbuatan. 6. Media penyampai pesan / nilai-nilai agama. 7. Sebagai sarana hiburan dan pencegah kejenuhan. Klasifikasi cerita. Sebelum seseorang bercerita, terlebih dahulu ia harus memilih / menentukan terlebih dahulu jenis cerita apa yang cocok dan sesuai dengan obyek dakwah yang kita tangani. Pemilihan jenis cerita ini antara lain ditentukan oleh : 1. Tingkat usia pendengar. 2. Jumlah pendengar. 3. Tingkat heterogenitas pendengar. 4. Tujuan penyampaian materi. 5. Suasana acara. 6. Situasi dan kondisi pendengar. Adapun pengelompokan cerita ini ditinjau dari beberapa sudut pandang, yang secara sederhana dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Berdasarkan pelakunya. a. fabel ( dunia binatang dan tumbuhan ). b. dunia manusia c. dunia benda mati d. campuran / kombinasi 2. Berdasarkan kejadiannya. a. cerita sejarah ( tarikh ). b. Cerita fiksi ( rekaan ). c. Cerita fiksi sejarah. 3. Berdasarkan sifat dan waktu penyajiannya. a. cerita bersambung. b. Cerita serial. c. Cerita sisipan. d. Cerita ilustrasi. e. Cerita lepas. 4. Berdasarkan jumlah pendengar. a. cerita privat. (1) cerita pengantar tidur. (2) Cerita lingkaran pribadi ( kelompok sangat kecil ). b. cerita kelas. (1) kelas kecil ( s.d 20 anak ) (2) kelas besar ( s.d 20 – 40 anak ). c. cerita untuk forum terbuka. 5. Berdasarkan teknik penyajiannya. a. direct story ( cerita lagsung / tanpa naskah ). b. Story reading ( membaca cerita ) 6. Berdasarkan pemanfaatan peraga. a. bercerita dengan alat peraga. b. Bercerita tanpa alat peraga. Sekali lagi, pemilihan jenis cerita diatas sangat berpengaruh pada teknik penyajiannya. Karena setiap cerita mempunyai gaya, teknik dan pendekatan yang berbeda-beda, oleh karenanya pemahaman yang mendalam tentang jenis dan karakter pendengar juga sangat dibutuhkan. Untuk mencapai keberhasilan dalam bercerita, ada dua faktor pokok yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik yang akan bercerita, yaitu : 1. Naskah / skenario atau setidaknya synopsis. ( kerangka cerita ). a. dari sumber ceritayang telah ada. (1) sumber bisa didapat dari buku cerita,komik, majalah. (2) Mengubah naskah dari bahasa tulis ke bahasa lisan ( percakapan) (3) Penyesuaian / modifikasi alur, setting dan bumbu cerita. (4) Melatih naskah baru berulang-ulang dalam penyajian yang sebenarnya. b. mengarang cerita sendiri. Untuk mempermudah menemukan ide dasar dan alur cerita, ada beberapa hal yang mungkin dapat mambantu : (1) Pilihlah setting awal. Baik setting tempat, waktu maupun suasana. (2) Tentukan tokoh utama dan tokoh antagonisnya (3) Munculkan konflik. Ada 4 macam konflik : - Person against self ( dari diri sendiri ). - Person against person ( diri sdr dengan orang lain ). - Person against society ( diri sdr dengan masyarakat ) - Person against nature ( diri sdr dengan alam ). (4) klimaks (puncak masalah ). (5) Penyelesaian. 2. Teknik penyajian. Bila faktor naskah “beres”, maka faktor kedua yang akan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam bercerita adalah faktor teknik penyajian. Bagaimanapun bagusnya naskah sebuah cerita tanpa didukung dengan teknik penyajian yang sempurna / baik, maka akan hambar / rusak juga, oleh karenanya unsur-unsur penyajian cerita harus dikombinasikan secara proposional. Unsur-unsur itu adalah a. Total. Artinya bersungguh - sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan kita. Termasuk dalam pengertian totalitas di sini adalah ketulusan dan keikhlasan kita. b. Satukan perhatian anak. Ada beberapa cara misalnya : diajak bermain tepuk, bernyanyi , atau Tanya jawab sekilas, lalu buatlah kesepakatan dengan anak-anak, misalnya waktu mendengarkan cerita tidak boleh ramai sendiri, dsb. c. Detail. Maksudnya gambarkanlah secara terinci cerita kita, diantaranya :personifikasi tokoh-tokohnya, adegan-adegannya, dialog antar tokohnya, dsb. d. Dramatisasi. Artinya menggambarkan perbedaan perilaku antara tokoh utama dengan tokoh antagonos secara tajam. Inilah yang disebut dramatisasi ( menyangatkan). Pada adegan yang memang perlu diberi penekanan, tonjolkan dengan maksimal. e. Ekspresif. Maksudnya dalam bercerita harus penuh penghayatan. Cerita yang tidak ekspresif akan terasa hambar, monoton, dan membosankan. Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan seluruh anggota tubuh kita, terutama mimik muka, tangan dan bahu, misalnya : membelalak, melirik, marah, menyeramkan, tertawa, dsb. f. Ilustrasi suara. Memberi ilustrasi cerita kita dengan suara-suara khusus mempunyai efek yang bagus bagio cerita kita. Ada dua macam : (1) suara lazim: suara yang kita tirukan sebagaimana aslinya, misal : dor !( untuk suara tembakan), meong…(suara kucing),dsb. (2) Suara tak lazim: suara yang kita ciptakan sendiri, misalnya : towengweng….(suara menghilang), suara angin, suara mantra yanga aneh-aneh,dsb. g. Suspence dan humor. Cerita yang menegangkan dan kaya akan humor biasanya lebih disukai anak-anak. Efek tegang bisa dibangun dengan memunculkan adegan-adegan penuh kejutan, suasana sunyi,dsb. Sedang efek humor bisa dibangun melalui dialog-dialog maupun gerakan yang lucu. h. Frienship. Maksudnya dalam bercerita ciptakan suasana akrab dan bersahabat dengan anak-anak. Halini bisa diusahakan dengan pengaturan tempat duduk,memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berkomentar, tanya jawab dsb. i. Perhatikan situasi dan kondisi pendengar. Anak-anak yang tampaknya sudah cukup penat dan jenuh, sebaiknya cukup diberi cerita yang ringan yang penuh canda. Cerita serius yang sarat akan pesan sebaiknya diberikan pada anak-anak yang dalam kondisi fresh. j. Happy ending. Akhir dari cerita dimana sang tokoh utama mengalami kebahagiaan. Cerita yang berakhir dengan kesedihan dan kekalahan sang tokoh utama, akan menjadikan anak-anak kecewa. Kalau tokoh utamanya dikisahkan “terpaksa” meningggal dunia, maka gambarkanlah bahwa ia mati syahid atau khusnul khotimah. MENYANYI Menyanyi adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia anak-anak.Menyenandungkan lagu, apalagi yang berirama riang, sungguh merupakan kegiatan yang digandrunginya. Hal ini tidaklah mengherankan, karena lagu pada dasarnya adalah bentuk dari bahasa nada. Yaitu bentuk harmoni dari tinggi rendahnya suara. Pada insan-insan belia yang perbendaharaan bahasa masih cukup terbatas ini, bahasa nada justru lebih mudah mereka kunyah. Bahasa kata-kata membuat mereka dituntut mengernyitkan dahi dan bersusah payah untuk memahami maknanya. Sedang bahasa nada justru akan membawa mereka pada suasana : riang, syahdu, sedih,semangat,dsb, tanpa harus mereka mengerti apa isi kandungannya. Kita dapat saksikan bayi yang baru berusia beberapa bulan tergelak-gelak mendengar ayah bundanya menyanyikan lagu gembira. Saat lain iapun tertidur pulas setelah bundanya melantunkan lagu syahdu walaupun tanpa syair, semisal ningnong ning gung…Begitulah, jauh sebelum anak-anak mengenal bahasa kata,ia telah mengenal bahasa nada. Ketika anak-anak beranjak lebih besar, mereka akan semakin akrab dengan lagu atau nyanyian. Asal melodinya tidak terlalu rumit, mereka akan dengan senang hati menyanyikannya.Mereka minta diajari menyanyi, menghafalkan syairnya, belajar melafalkan kata-kata yang terdapat pada syair lagu itu, sibuk bergaya ketika menyanyi, dsb.Semua itu adalah bagian dari dunia keceriaan masa kanak-kanak yang indah. Dalam kaitannya dengan hal ini, menjadi sangat dimengerti apabila para ulama tempo dulu menciptakan banyak lagu /tembang sebagai sarana dakwahnya. Lagu-lagu iru sampai sekarang masih sering kita dengarkan lewat menara-menara masjid dengan lantunan puji-pujiannya. Konon untuk menunjukkan kecintaannya pada Rosulullah SAW, para shahabat melantunkan sholawat badar untukmenyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dari perang badar yang dimenangkan kaum muslimin dengan gilang gemilang. Bukankah sholawat badar bukan satu bentuk dari nyanyian Demikian pula ketika nabi Muhammad SAW mengagumi lantunan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an,bukankah lantunan suara itu bentuk dari sebuah lagu. Demikianlah menurut fitrohnya manusia memang menyukai keindahan, dalam soal suara, manusia pasti akan lebih menyukai nada-nada yang indah, mengandung harmoni, sehingga enak didengar daripada mendengar suara-suara yang cenderung sumbang, tak beraturan sehingga terasa tak nyaman di telinga. Bentuk harmoni yang indah itu kemudian diusahakan agar dapat diulang kembali, diperdengarkan lagi, ditirukan, bahkan disebarluaskan. Itulah yang kita kenal sebagai lagu atau nyanyian. Fungsi dan makna nyanyian bagi pendidikan anak-anak. Melihat kegemaran anak-anak menyanyi tentu dengan segenap tingkah lakunya, menerbitkan pertanyaan : apa sebenarnya fungsi dan makna lagu-lagu semacam itu bagi mereka ? sebagai seorang pendidik pertanyaan lumrah ini memang wajib kita cari jawabannya. Sebagai renungan di bawah ini secara garis besar akan kita sebutkan apa makna dan fungsi kegiatan bernyanyi bagi anak-anak, yaitu : 1. Sebagai pendidikan emosi 2. Pendidikan motorik 3. Pengembangan daya imajinasi 4. Peneguhan eksistensi diri 5. Pengembangan kemampuan berbahasa 6. Pengembangan daya intelektual 7. Pengembangan kekayaan rohani dan pendidikan nilai-nilai moral. Mengajarkan lagu pada anak-anak. Untuk dapat mengajarkan lagu pada anak-anak dengan baik, ustadz/ pengasuh anak-anak harus mempersiapkan dan memperhatikan 3 hal : 1. Kesiapan materi lagu. 2. kesiapan emosi 3. Ketepatan situasi. ditulis oleh SDIT SALSABILA PURWOREJO Label: TULISAN KAK WUNTAD

KURSUS IQRO' KHUSUS DEWASA

KURSUS IQRO' KHUSUS DEWASA Bimbingan Belajar Baca Al-Qur’an Dengan Cepat dan Mudah Tingkat Dasar usia 15 tahun ke atas Romadlon adalah bulan yang sangat mulia - bulan dilipatgandakan pahala - bulan diampuni dosa-dosa - bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur'an penerang jagat raya dan alam seisinya dengan Al-Qur'an, manusia mengenal Tuhan dan Nabinya dengan Al-Qur'an manusia tahu surga neraka dengan Al-Qur'an manusia mengerti halal haram dengan Al-Qur'an manusia mengenal mana benar mana salah dengan Al-Qur'an manusia mengerti mana baik mana buruk dengan Al-Qur'an manusia mengerti sejarah umat manusia sejak Adam sampai akhir zaman dengan Al-Qur'an manusia bisa mengerti segala hal Nah, dalam rangka menghadapi Romadlon yang mulia itu LKG & LPPTKA Surakarta memberikan kesempatan kepada Umat Islam yang belum lancar membaca Al-Qur'an atau mungkin belum bisa sama sekali untuk belajar Al-Qur'an Apakah dari Keluarga dan Tetangga Anda, ada yang masih belum bisa Baca Qur’an ? Apakah di Masjid/Musholla Anda, Juga banyak yang belum bisa baca Qur’an ? Apakah masih banyak warga di RT / RW Anda yang belum bisa baca Qur’an ? Apakah di Kantor/Perusahaan Anda, masih ada karyawan/pegawai yang buta huruf Al-Qur’an ? Apakah para Dosen / Karyawan / Mahasiswa di Kampus Anda juga demikian ? ANDA CALON HAJI DAN BELUM BISA BACA QUR’AN JUGA ? Atau barangkali sudah bisa tapi belum lancar ? Jangan Tunda Lagi, segera selenggarakan Kursus IQRO' Di Kantor, di Kampus, di Masjid, di Kampung, atau di Rumah Anda. Informasi lebih lanjut, hubungi LPPTKA Surakarta Perum GSP Blok A7 Mayang, gatak, Baki Sukoharjo Telp. 0271-7975840/085647260092 atau AMALY Collection Timur Kampus IAIN Surakarta Telp. 0271-7957889/085647260092 MARI KITA PEDULI, KAPAN LAGI KALAU TIDAK SAAT INI !!!

KURSUS IQRO' DI KANTOR dan KAMPUS

KURSUS IQRO' DI KANTOR dan KAMPUS Dalam rangka mensukseskan Gerakan Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an bagi seluruh Umat Islam di Propinsi Jawa Tengah sesuai dengan : SKB Meneri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI nomor : 128 tahun 1982/44A tahun 1982 tentang “Usaha peningkatan kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an bagi Umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari” Maka LKG mengajak kerjasama dengan Kepala Kantor / Kepala Dinas / Direktur atau Rektor Perguruan Tinggi untuk bersama-sama mensukseskan program tersebut untuk para Pegawai/Karyawan/Dosen, terutama bagi mereka yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an, atau sudah bisa tapi belum lancar. Mengenai Pembimbing IQRO', LKG siap mengirim tutor ke Kantor/Kampus setiap hari, atau seminggu 2 kali, antara jam 09.00 – 12.00 wib, dengan Infaq / biaya transportasi antara Rp. 50.000,00, atau Rp. 75.000,00 atau Rp. 100.000,00 perdatang. (dipilih sesuai anggaran yang tersedia). Antara jam 09.00 – 12.00 tersebut, satu persatu para Pegawai/Karyawan/Dosen, secara bergantian disimak oleh tutor tersebut antara 5 – 10 menit. Penanggung Jawab : Ustadz Sunarso. S.Pd.I Pelaksana : Ustadz Anam asyarif, Ustadz Andi Pratama, Ustadz Uray Ibrahim, Ustadz Abdul Wahab, Ustadzah Siti Zulaikha, Ustadz Abdul Qadir, Ustadzah Yati, Ustadzah Kukuh dll.

PENATARAN METODOLOGI IQRO' DAN MANAJEMEN TKA-TPA

PENATARAN METODOLOGI IQRO' DAN MANAJEMEN TKA-TPA Gerakan Dakwah Al-Qur'an dikembangkan ke seluruh pelosok tanah air antara lain melalui "PENATARAN". Penataran yang dimaksud adalah "Penataran Metodologi IQRO' dan Manajemen TKA-TPA". Acara ini dimaksudkan untuk menjelaskan kepada para Guru Ngaji, Calon Pengelola TKA-TPA, para pemerhati dan penggerak Gerakan Dakwah Al-Qur'an, bagaimana mengajarkan Al-Qur'an secara cepat dan mudah, bagaimana mengajarkan IQRO' secara benar, bagaimana cara mendirikan dan mengelola TKA-TPA, dan juga kiat-kiat agar Gerakan Dakwah Al-Qur'an bisa berjalan dengan baik di semua lapisan masyarakat, sejak dari Balita sampai Manula. Berkembang pesatnya Metode IQRO' dan TKA-TPA ini, anatar lain karena setiap Pelaksanaan Penataran di suatu Daerah, disyaratkan harus mengundang Guru-guru Ngaji, Guru Agama, Tokoh-tokoh Masyarakat, Pengurus Lembaga Dakwah setempat dan lain-lain yang lingkupnya paling tidak satu desa, satu kecamatan atau syukur satu Kabupaten. Penataran seperti ini biasanya diselenggarakan pada hari-hari libur, biasanya antara 5 sampai 7 tempat. Peserta masing-masing tempat biasanya antara 75 - 200 orang. Bahkan di sebuah Pesantren di Kediri pernah mencapai 3000 orang. Langkah tersebut ternyata sangat efektif dalam proses sosialisasi Metode Iqro' secara cepat. Disamping itu didukung juga dengan banyaknya kunjungan tamu dari seluruh penjuru Tanah Air ke Sekretariat "AMM", hampir tiap hari, terutama hari Sabtu dan Ahad, terkadang sampai 4 atau 5 rombongan perharinya, per rombongan antara 10 - 100 orang, bahkan sering mencapai 3-5 bus. Hal ini berlangsung sejak tahun 1990 sampai tahun 2005. Oleh karena sesuatu hal, antara lain karena kurang gencarnya sosialisasi ajakan untuk mengadakan penataran, maka antara 2006 sampai sekarang Penataran tersebut dan kunjungan tamu sudah mulai berkurang. Bagi para pemerhati dan aktivis Gerakan Dakwah Al-Qur'an yang sekarang ini merasa perlu untuk membangkitkan lagi semangat dakwah para guru ngaji, Ustadz TKA-TPA atau ingin merekrut Pemuda/Remaja Masjid agar mereka mempunyai semangat untuk aktif dalam dakwah al-Qur'an, Lembaga Dakwah LDPQ atau Timnas Peningkatan Mutu TKA-TPA Indonesia, selalu siap diundang sebagai Pemateri Penataran, yang meliputi : 1. PENATARAN TINGKAT DASAR a. Problematika Gerakan Dakwah Al-Qur'an b. Manajemen TKA-TPA c. Metodologi IQRO' 2. PENATARAN TINGKAT MAHIR SATU a. Ilmu Tajwid Dan Irama Murottal b. Metodologi BCM (Bermain, Cerita dan Menyanyi c. Program Pendidikan Pasca TKA-TPA (TQA) 3. PENATARAN TINGKAT MAHIR DUA a. Problem Solving Pengajaran Iqro' b. Problem Solving Pengelolaan TKA-TPA-TQA c. Metodologi Iqro' Klasikal d. Prinsip dasar pendidikan Islam

MENGHARGAI SEJARAH PENEMU BUKU IQRO'

MENGHARGAI SEJARAH PENEMU BUKU IQRO' Maret 30, 2007 Seorang teman baik menunjukkan buku tentang pendidikan Islam dan pesantren yang ditulis Professor Nishino dan Prof Hattori. Bukunya sangat cantik dilengkapi dengan foto-foto kegiatan pesantren dan pengajian di Indonesia. Saya terkagum-kagum melihatnya. Seperti yang saya tulis di blog ini tentang orang Jepang yang suka mikir njlimet, hal yang sama saya rasakan ketika membuka-buka halaman demi halaman buku baru tersebut. Hal-hal yang sangat detil terungkap dengan sangat baik, sebagaimana buku2 karangan orang Jepang. Membaca buku karangan orang Jepang seperti membaca buku cerita bagi saya, karena detilnya pemaparan. Ya, tergantung bukunya juga sih, kalau buku ilmiahnya sama saja membuat kening berkerut-kerut. Sambil melihat-lihat isi buku, kami mengobrol ngalor ngidul hingga sampai pada topik tentang sejarah. Yuki san teman saya, juga menulis salah satu chapter tentang IQRO di Indonesia. Yuki yang lama tinggal di Indonesia benar-benar sudah seperti orang Indonesia bagi saya. Kegigihannya mempelajari tentang IQRO membuat saya tersadar akan kehebatan orang Indonesia di bidang pengajaran Al-Quran. Dia begitu terkesan dengan fenomena belajar Al-Quran sejak dini di Indonesia, yang bagi sebagian orang Indonesia adalah hal yang wajar. Saya pun semula tak pernah begitu terpesona dengan metode IQRO, dengan perjuangan penemunya, dengan kisah sejarah di balik movement IQRO di Indonesia, tetapi karena membaca hasil penelitian Yuki san, medengarkan ceritanya, saya menjadi sangat tertarik dengan apa itu IQRO, bahkan bertekad mendatangi dan belajar kepada orang2 yang berjasa mengembangkannya hingga kini. IQRO saat ini tidak hanya dikenal di Indonesia tapi sudah dipakai di beberapa negara ASEAN. Suatu gerakan yang mungkin tak terdeteksi atau terasakan oleh kita yang muslim. Yuki san begitu menggebu berharap orang Malaysia atau siapa saja yang mengadopsi sistem IQRO pun para penerbit dan pengguna yang mengambil keuntungan dari pengembangan IQRO mau belajar dan menghargai perjuangan penemunya, Bapak K.H. As`ad Humam. Saya jadi teringat betapa kurangnya penghargaan kita, orang Indonesia kepada orang-orang seperti Pak As`ad. Banyak sekali orang yang menemukan hal kecil tapi bermanfaat di sekitar kita, yang mengalirkan air dari gunung-gunung ke sawah, yang mengajarkan Al-Quran di surau-surau gelap yang pada akhirnya melahirkan para qari dan orang besar lainnya. Perjalanan orang-orang penting seperti itu yang kadang tidak terekam dengan baik oleh kita, sehingga hilang begitu saja sebelum kita sempat mengambil pelajaran yang baik. Menghargai proses sepertinya masih kurang, padahal proseslah yang bisa mengulang sejarah. Dulu semasa kecil, saya suka sekali duduk di dekat lampu minyak, yang bisa menghitamkan wajah. Tidak sekedar duduk tapi sambil mendengarkan oom bercerita tentang bualan-bualan orang dulu. Tentang kakek yang berjuang melawan Belanda, atau tentang dukun beranak di kampung kami yang dari tangannya telah lahir bayi sekampung ataupun cerita-cerita siluman yang tak masuk akal lainnya. Tapi terlepas dari isi cerita, di kampung kami seperti sudah tersepakati bahwa oom tahu tentang sejarah kampung, sehingga bisa dijadikan rujukan. Seperti halnya Yuki san, saya pun angkat jempol kepada para pejuang IQRO, juga kepada orang2 yang menemukan metode membaca Al-Quran. Saya bahkan salut dengan orang-orang yang tak berputus asa memikirkan cara supaya semua orang Islam bisa membaca Al-Quran, menggemarinya dan mau mengamalkannya sehari-hari. Usaha seperti mereka menurut saya lebih berharga daripada orang yang berhasil membuat sesuatu yang tidak berharga menjadi segunung uang.

AL-QOLAM - Al-Qur'an Digital Pen

Sebuah produk baru kini telah hadir di hadapan Anda, Al-Qolam - Al-Qur'an & IQRO' Digital Pen. Satu usaha yang tiada henti untuk memacu dan memicu semangat belajar Al-Qur'an sepanjang zaman dari BALITA sampai MANULA. Bagi para Pengusaha Muslim, Pejabat, Birokrat, Politikus, Profesor, Dosen, Mahasiswa, Karyawan, Eksekutif Muda dan para Orang Tua yang mungkin karena kesibukannya tidak sempat membaca Al-Qur'an, tidak sempat belajar Al-Qur'an, atau tidak sempat mendengarkan alunan merdu ayat-ayat Al-Qur'an, AL-QOLAM - AL-QUR'AN & IQRO' DIGITAL PEN adalah solusinya. Hanya dengan harga Rp. 1.600.000,00 Anda akan mendapatkan sebuah produk unggulan yang cukup fenomenal, tidak saja berguna untuk menjernihkan pikiran Anda yang mungkin sedang kusut, tapi juga sebagai bekal untuk meraih kebahagian hidup dunia dan akhirat. Karena tiada yang bisa menyelematkan umat manusia di dunia dan akhirat, selain berpegang teguh dengan Petunjuk dan Pedoman Hidup yang telah diberikan oleh Sang Pembuat Hidup (Allah Swt.). Produk Honda, pasti hanya bisa dipelihara dengan baik dan benar serta akan berguna, apabila dipelihara dengan Buku Panduan yang dikeluarkan oleh Pabrik Honda. Akan hancur brantakan bila Produk Honda dirawat dengan Buku Panduan yang dibuat oleh Pabrik Mie Instant. Demikian juga alam seisinya. Semuanya adalah makhluq ciptaan Allah Swt. maka pasti yang paling tahu bagaimana merawat, memelihara dan mengatur alam semesta beserta isinya ini hanyalah Allah SWT. yang Buku panduannya diwujudkan dalam bentuk AL-QUR'AN, dan dilengkapi dengan As-Sunnah. TAPI PADA KENYATAANNYA MANUSIA KEBANYAKAN MERASA SOK TAHU DAN SOK PINTER,SEHINGGA BUKU PEDOMAN DARI SANG PENCIPTA ALAM DIABAIKAN. saatnya, kini kita kembali, setelah lama kita pergi. menuruti hawa nasu pribadi kembali ke pangkuan ilahi robbi

KH. AS'AD HUMAM K.H. As’ad Humam, Pahlawan Yang Patut Dikenang

KH. AS'AD HUMAM K.H. As’ad Humam, Pahlawan Yang Patut Dikenang Aku yakin mayoritas rakyat di seluruh Indonesia yang pernah menjadi seorang muslim, apalagi masih muslim sejak lahir hingga sekarang mengenal Iqro’. Dan aku juga yakin kita semua tidak terlalu asing dengan seorang tokoh bernama K.H. As’ad Humam, penemu metode Iqro’. Melalui metode Iqro’ itulah aku belajar membaca tulisan arab Dan al Quran hingga akhirnya bisa membaca Al Quran sampai sekarang. Aku pun yakin kamu juga bisa membaca Al Quran seperti sekarang ini juga menggunakan media belajar buku Iqro’. Sungguh betapa besar amal jariyah K.H. As’ad Humam yang melalui buku metode penemuannya jutaan umat di Indonesia akhirnya bisa membaca Al Quran. Secara tidak langsung, beliau memiliki murid jutaan -salah satunya aku Dan kamu- yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan hingga ke Malaysia Dan Singapura sehingga memperoleh kebaikan serta barokah atas ilmu yang beliau ajarkan kepada kita semua. Memang benar sabda Rasulullah SAW bahwa ilmu yang bermanfaat bakal menjadikan si-empunya ilmu memperoleh kebaikan yang terus menerus seperti air yang mengalir tak pernah kering. Ini pula lah yang dapat dirasakan atas apa yang telah diwariskan K.H. As’ad Humam. Tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam memang. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP). Sejarah berawal dari keinginan KH. As’ad Humam bersama kawan-kawannya yang dihimpun dalam wadah Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta, untuk mencari bentuk baru bagi sistem pengelolaan pengajian anak-anak dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Pada saat itu, metode membaca al Quran selain Iqro’ juga sudah ada seperti metode Juz Amma, methode Al-Banjary, methode Al-Barqy dan banyak methode lainnya. Banyak para penguji mencoba mengadakan pengujian terhadap keakuratan metode ini. Ternyata karena selain sederhana dengan metode iqro sangat mudah mempelajari Al-Qur’an dibanding metode yang lain. Singkatnya, setelah melalui studi banding dan ujicoba tersebut, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H, bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) “AMM” Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Ramadlan 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “AMM” Yogyakarta. Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4,0 – 6,0 tahun) sedangkan TPA, untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 tahun). TKA-TPA “AMM” ini terletak di Kampung Selokraman, suatu kampung di pinggiran kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bantul. Selokraman ini masuk wilayah Kalurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Pada awal berdirinya (1988), TKA-TPA “AMM” ini belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) dari rumah milik pribadi KH. As’ad Humam. Baru kemudian pada tahun 1991 bisa membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4 ruang diantaranya berada di lantai 2. 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas), 2 ruang untuk kantor, 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk ruang tamu. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping, sedang di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara. Atas hasil karya beliau tersebut, tahun 1991 Menteri Agama RI (waktu H Munawir Sjadzali MA. Menjadikan TKA /TPA yang didirikan K.H. As’ad Humam di kampung Selokraman Kotagede Yogya sebagai balai litbang LPTQ Nasional. Dan selanjutnya, perkembangan Iqro’ pun meluasa tidak hanya di di Yogyakarta Dan Jawa Tengah saja namun sudah sampai ke pelosok-pelosok tanah air Dan mancanegara. Bahkan di Malaysia, metode Iqro ditetapkan sebagai kurikulum wajib di sekolah. Metode Iqro’ sendiri telah sering diteliti Dan dijadikan objek penelitian. Hasilnya, efektivitas metode Iqro’ dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta bagi anak usia TK (4,0 – 6,0 tahun) dalam waktu 6 – 18 bulan sudah mencapai angka 89,9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Sedang untuk anak usia SD (mayoritas usia 7,0 – 9,0 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (84,31%) telah lancar membaca al-Qur’an. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian “tradisional” yang memerlukan waktu 2 – 5 tahun. Kini, K.H. As’ad Humam telah meninggalkan kita untuk selamanya. Pada awal Februari tahun 1996 dalam usia 63 tahun, beliau dipanggil Allah SWT. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Ramadhan hari Jum’at (2/2) sekitar Pukul 11:30. Jenazah KH. As’ad Humam dishalatkan di mesjid Baiturahman Selokraman Kota Gede Yogya tempat ia mengabdi. Beliau sangat layak disebut sebagai pahlawan bagi kita semua. Meskipun beliau telah meninggal dunia, ilmu yang beliau wariskan menjadi kebaikan bagi beliau yang terus mengalir menambah kebaikan bagi beliau di sisi Allah. Diposkan oleh : Fanni Rahmatina Rahim