slider ngaji

Selasa, 27 November 2012

MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN METODE BCM ( BERMAIN CERITA MENYANYI ) .

MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN METODE BCM ( BERMAIN CERITA MENYANYI ) . Belajar itu penting. Mengaji itu penting. Disiplinitu penting. Siapa yang berkata seperti itu? Jawabannya mudah saja : orang dewasa! Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang berbentuk mini. Adalah hal yang lumrah jika anak-anak belum memiliki kesadaran setinggi itu. Bagi mereka yang penting adalah kenyamanan psikologis, kasih sayang, penghargaan, keceriaan, kegembiraan, enjoy…! Inilah yang membuat mereka bahagia. Memang, bagi anak-anak suasana hati lebih penting daripada substansi norma ajarannya. Dua pokok pikiran di atas kedengarannya seperti sebuah paradoks, yang satu mementingkan suasananya, yang satu lagi mementingkan isisnya. Yang satu mementingkan kehariiniannya, yang lain menanamkan keesokannya., yang satu berusaha menghindari beban-beban yang berat, yang satu menekankan betapa pentingnya bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.. Bagaimana mengkompromikan dan menemukan titik temu keduanya? Inilah persoalannya. Harus disadari bahwa keinginan orang dewasa bila ingin mencapai sasaran, harus dicapai dengan memperhatikan tuntutan jiwa anak-anak. Semua hal di atas menjadi pijakan bagi gagasan bahwa proses belajar mengajar pada anak-anak akan sangat efektif bila dikembangkan melalui pendekatan happy learning, dengan metode BCM ( Bermain, Cerita, Menyanyi ). BERMAIN Para ahli mengatakan bahwa tidak terlalu mudah untuk mendefinisikan pengertian mengenai bermain secara tepat. Namun secara umum,bermain sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan dengan spontan dan dalam suasana riang gembira. Garvey dalam salah satu tulisannya mengemukakan adanya lima pengertian yang berkaitan dengan bermain,yaitu: 1. Bermain adalah sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak 2. Bermain tidak memiliki tujuan ekstrinsik,namun motivasinya lebih bersifat intrinsik. 3. Bermain bersifat spontan dan suka rela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak. 4. Bermain melibatkan peran aktif keikutsertaan anak. 5. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti misalnya :kemampuan kreatifitas, kemampuan memecahkan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya. Pengertian ini menggambarkan bahwa apabila kegiatan bermain menyenangkan,maka anak akan terus melakukannya, namun bila sudah tidak menyenangkan maka anakpun akan menghentikan permainan tersebut. Klasifikasi Bermain. Klasifikasi permainan ditinjau dari beberapa sudut pandang : 1. Sumber kebahagiaan : a. Permainan aktif : sumber kebahagiaan dari diri sendiri saat ia melakukan permainan tersebut. b. Permainan pasif : sumber kebahagiaannya dari orang lain, contohnya mendengarkan dongeng, menikmati musik dll. 2. Fungsinya : a. Permainan intelegensi, misalnya : menerjemahkan sandi, puzzle, kuis Islami, dll. b. Permainan rekreatif, misalnya : aneka permainan tepuk, shodaqoh berantai dll. 3. Jumlah peserta. a. perorangan : KKM (Kegitan Kreatif Mandiri) b. kelompok : jihad, bisik berantai,dll c. massal : lingkaran sholat, elang dan induk ayam. 4. Tempat : a. out door ( di luar ruangan / kelas ) b. in door ( di dalam ruangan / kelas ). 5. Sifat permainan : a. Kompetitif : permainan yang dilombakan. b. Konstruktif : permainan membangun. c. Destruktif : permainan membongkar. Manfaat Permainan. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan bermain, antara lain : 1. Manfaat fisik. 2. Manfaat terapi. 3. Manfaaat edukatif 4. Manfaat kreatif. 5. Manfaat pembentukan konsep diri. 6. Manfaat sosial. 7. Manfaat moral. Menentukan permainan sebagai media pendidikan. Seorang pendidik / pengasuh anak-anak yang kaya akan permainan dan kreatif akan mudah akrab dengan peserta didiknya. Namun hal ini belum menjamin bahwa ia akan berhasil membawa peserta didiknya mencapai tujuan pendidikan yang sempurna atau total. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mampu memilih media permainan yang tepat dan efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang diinginkan sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh lembaga. Hal yang perlu diperhatikan dan diingat dalam memilih permainan sebagai media pendidikaan antara lain : 1. Keselarasan antara materi dengan jenis permainan. 2. Kondisi anak didik. 3. Kondisi lingkungan 4. Kegiatan terdahulu / variasi permainan CERITA “ Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-qur’an ini kepadamu,….”. Dari penggalan Al Qur’an surat Yusuf ayat 3 diatas, dapatlah diambil pelajaran bahwa secara implisit Allah menyebut Al-Qur’an dengan ‘kumpulan cerita yang paling baik’. Maksudnya dalam mengajak manusia kedalam keimanan dan ketaatan kepada robbnya, Allah pun menggunakan metode yang menyentuh hati nurani,yaitu cerita / kisah-kisah. Hikmah yang dapat diambil atas sebuah cerita / peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu adalah sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk kita berikhtibar atas peristiwa itu. Allah berfirman, “faq shulshil qoshosho la’allahum yatafakkaruun.” Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’rof 176). Dengan demikian, secara khusus Allah hendak mengajarkan kepada Rosulullah dan tentu juga kepada para pengikutnya yang setia,bahwa cerita adalah metode tarbiyah yang paling tepat dan efektif untuk mengajar manusia berbuat baik (akhlakul karimah) tanpa merasa digurui. Karena itulah Allah sering kali menggunakan tamsil-tamsil, perupamaan, pelukisan-pelukisan untuk mengajar manusia menuju ketaatan syariat, antara lain diambil dari dunia binatang dan tumbuhan yang dilukiskan dalam Al Qur’an dengan bahasa yang indah dan mempesona. Mengingat begitu besarnya perhatian Allah pada metode bercerita ini tentu wajar jika terbersit pertanyaan dihati kita,mengapa metode bercerita ini efektif sekali? Jawabnya adalah pertama, cerita umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni,sehingga pada kebanyakan hal, cerita yang kita dengar dimasa kanak-kanak dulu masih bisa kita ingat dengan utuh berpuluh-puluh tahun. Kemudian., yang kedua, melalui cerita manusia diajarkan untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus dikhutbahi dengan segerobak nasihat yang berkepanjangan. Uraian diatas menggambarkan bahwa cerita sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Sebagai konsekwensinya kita sebagai pengasuh /pendidik anak-anak yang sangat menggandrungi terbitnya generasi robbani dengan kesholihan amal dan luasnya pengetahuan mereka, harus merasa ikut diperintah Allah untuk menebar dan mengajar manusia dengan kesantunan tutur lewat cerita ini. Fungsi Cerita 1. Sarana kontak batin antara pendidik dan anak didik. 2. Pendidikan imajinasi / fantasi. 3. Pendidikan emosi (perasaan) anak didik. 4. Sarana pendidikan bahasa anak didik. 5. Membantu proses identifikasi diri / perbuatan. 6. Media penyampai pesan / nilai-nilai agama. 7. Sebagai sarana hiburan dan pencegah kejenuhan. Klasifikasi cerita. Sebelum seseorang bercerita, terlebih dahulu ia harus memilih / menentukan terlebih dahulu jenis cerita apa yang cocok dan sesuai dengan obyek dakwah yang kita tangani. Pemilihan jenis cerita ini antara lain ditentukan oleh : 1. Tingkat usia pendengar. 2. Jumlah pendengar. 3. Tingkat heterogenitas pendengar. 4. Tujuan penyampaian materi. 5. Suasana acara. 6. Situasi dan kondisi pendengar. Adapun pengelompokan cerita ini ditinjau dari beberapa sudut pandang, yang secara sederhana dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Berdasarkan pelakunya. a. fabel ( dunia binatang dan tumbuhan ). b. dunia manusia c. dunia benda mati d. campuran / kombinasi 2. Berdasarkan kejadiannya. a. cerita sejarah ( tarikh ). b. Cerita fiksi ( rekaan ). c. Cerita fiksi sejarah. 3. Berdasarkan sifat dan waktu penyajiannya. a. cerita bersambung. b. Cerita serial. c. Cerita sisipan. d. Cerita ilustrasi. e. Cerita lepas. 4. Berdasarkan jumlah pendengar. a. cerita privat. (1) cerita pengantar tidur. (2) Cerita lingkaran pribadi ( kelompok sangat kecil ). b. cerita kelas. (1) kelas kecil ( s.d 20 anak ) (2) kelas besar ( s.d 20 – 40 anak ). c. cerita untuk forum terbuka. 5. Berdasarkan teknik penyajiannya. a. direct story ( cerita lagsung / tanpa naskah ). b. Story reading ( membaca cerita ) 6. Berdasarkan pemanfaatan peraga. a. bercerita dengan alat peraga. b. Bercerita tanpa alat peraga. Sekali lagi, pemilihan jenis cerita diatas sangat berpengaruh pada teknik penyajiannya. Karena setiap cerita mempunyai gaya, teknik dan pendekatan yang berbeda-beda, oleh karenanya pemahaman yang mendalam tentang jenis dan karakter pendengar juga sangat dibutuhkan. Untuk mencapai keberhasilan dalam bercerita, ada dua faktor pokok yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik yang akan bercerita, yaitu : 1. Naskah / skenario atau setidaknya synopsis. ( kerangka cerita ). a. dari sumber ceritayang telah ada. (1) sumber bisa didapat dari buku cerita,komik, majalah. (2) Mengubah naskah dari bahasa tulis ke bahasa lisan ( percakapan) (3) Penyesuaian / modifikasi alur, setting dan bumbu cerita. (4) Melatih naskah baru berulang-ulang dalam penyajian yang sebenarnya. b. mengarang cerita sendiri. Untuk mempermudah menemukan ide dasar dan alur cerita, ada beberapa hal yang mungkin dapat mambantu : (1) Pilihlah setting awal. Baik setting tempat, waktu maupun suasana. (2) Tentukan tokoh utama dan tokoh antagonisnya (3) Munculkan konflik. Ada 4 macam konflik : - Person against self ( dari diri sendiri ). - Person against person ( diri sdr dengan orang lain ). - Person against society ( diri sdr dengan masyarakat ) - Person against nature ( diri sdr dengan alam ). (4) klimaks (puncak masalah ). (5) Penyelesaian. 2. Teknik penyajian. Bila faktor naskah “beres”, maka faktor kedua yang akan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam bercerita adalah faktor teknik penyajian. Bagaimanapun bagusnya naskah sebuah cerita tanpa didukung dengan teknik penyajian yang sempurna / baik, maka akan hambar / rusak juga, oleh karenanya unsur-unsur penyajian cerita harus dikombinasikan secara proposional. Unsur-unsur itu adalah a. Total. Artinya bersungguh - sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan kita. Termasuk dalam pengertian totalitas di sini adalah ketulusan dan keikhlasan kita. b. Satukan perhatian anak. Ada beberapa cara misalnya : diajak bermain tepuk, bernyanyi , atau Tanya jawab sekilas, lalu buatlah kesepakatan dengan anak-anak, misalnya waktu mendengarkan cerita tidak boleh ramai sendiri, dsb. c. Detail. Maksudnya gambarkanlah secara terinci cerita kita, diantaranya :personifikasi tokoh-tokohnya, adegan-adegannya, dialog antar tokohnya, dsb. d. Dramatisasi. Artinya menggambarkan perbedaan perilaku antara tokoh utama dengan tokoh antagonos secara tajam. Inilah yang disebut dramatisasi ( menyangatkan). Pada adegan yang memang perlu diberi penekanan, tonjolkan dengan maksimal. e. Ekspresif. Maksudnya dalam bercerita harus penuh penghayatan. Cerita yang tidak ekspresif akan terasa hambar, monoton, dan membosankan. Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan seluruh anggota tubuh kita, terutama mimik muka, tangan dan bahu, misalnya : membelalak, melirik, marah, menyeramkan, tertawa, dsb. f. Ilustrasi suara. Memberi ilustrasi cerita kita dengan suara-suara khusus mempunyai efek yang bagus bagio cerita kita. Ada dua macam : (1) suara lazim: suara yang kita tirukan sebagaimana aslinya, misal : dor !( untuk suara tembakan), meong…(suara kucing),dsb. (2) Suara tak lazim: suara yang kita ciptakan sendiri, misalnya : towengweng….(suara menghilang), suara angin, suara mantra yanga aneh-aneh,dsb. g. Suspence dan humor. Cerita yang menegangkan dan kaya akan humor biasanya lebih disukai anak-anak. Efek tegang bisa dibangun dengan memunculkan adegan-adegan penuh kejutan, suasana sunyi,dsb. Sedang efek humor bisa dibangun melalui dialog-dialog maupun gerakan yang lucu. h. Frienship. Maksudnya dalam bercerita ciptakan suasana akrab dan bersahabat dengan anak-anak. Halini bisa diusahakan dengan pengaturan tempat duduk,memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berkomentar, tanya jawab dsb. i. Perhatikan situasi dan kondisi pendengar. Anak-anak yang tampaknya sudah cukup penat dan jenuh, sebaiknya cukup diberi cerita yang ringan yang penuh canda. Cerita serius yang sarat akan pesan sebaiknya diberikan pada anak-anak yang dalam kondisi fresh. j. Happy ending. Akhir dari cerita dimana sang tokoh utama mengalami kebahagiaan. Cerita yang berakhir dengan kesedihan dan kekalahan sang tokoh utama, akan menjadikan anak-anak kecewa. Kalau tokoh utamanya dikisahkan “terpaksa” meningggal dunia, maka gambarkanlah bahwa ia mati syahid atau khusnul khotimah. MENYANYI Menyanyi adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia anak-anak.Menyenandungkan lagu, apalagi yang berirama riang, sungguh merupakan kegiatan yang digandrunginya. Hal ini tidaklah mengherankan, karena lagu pada dasarnya adalah bentuk dari bahasa nada. Yaitu bentuk harmoni dari tinggi rendahnya suara. Pada insan-insan belia yang perbendaharaan bahasa masih cukup terbatas ini, bahasa nada justru lebih mudah mereka kunyah. Bahasa kata-kata membuat mereka dituntut mengernyitkan dahi dan bersusah payah untuk memahami maknanya. Sedang bahasa nada justru akan membawa mereka pada suasana : riang, syahdu, sedih,semangat,dsb, tanpa harus mereka mengerti apa isi kandungannya. Kita dapat saksikan bayi yang baru berusia beberapa bulan tergelak-gelak mendengar ayah bundanya menyanyikan lagu gembira. Saat lain iapun tertidur pulas setelah bundanya melantunkan lagu syahdu walaupun tanpa syair, semisal ningnong ning gung…Begitulah, jauh sebelum anak-anak mengenal bahasa kata,ia telah mengenal bahasa nada. Ketika anak-anak beranjak lebih besar, mereka akan semakin akrab dengan lagu atau nyanyian. Asal melodinya tidak terlalu rumit, mereka akan dengan senang hati menyanyikannya.Mereka minta diajari menyanyi, menghafalkan syairnya, belajar melafalkan kata-kata yang terdapat pada syair lagu itu, sibuk bergaya ketika menyanyi, dsb.Semua itu adalah bagian dari dunia keceriaan masa kanak-kanak yang indah. Dalam kaitannya dengan hal ini, menjadi sangat dimengerti apabila para ulama tempo dulu menciptakan banyak lagu /tembang sebagai sarana dakwahnya. Lagu-lagu iru sampai sekarang masih sering kita dengarkan lewat menara-menara masjid dengan lantunan puji-pujiannya. Konon untuk menunjukkan kecintaannya pada Rosulullah SAW, para shahabat melantunkan sholawat badar untukmenyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dari perang badar yang dimenangkan kaum muslimin dengan gilang gemilang. Bukankah sholawat badar bukan satu bentuk dari nyanyian Demikian pula ketika nabi Muhammad SAW mengagumi lantunan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an,bukankah lantunan suara itu bentuk dari sebuah lagu. Demikianlah menurut fitrohnya manusia memang menyukai keindahan, dalam soal suara, manusia pasti akan lebih menyukai nada-nada yang indah, mengandung harmoni, sehingga enak didengar daripada mendengar suara-suara yang cenderung sumbang, tak beraturan sehingga terasa tak nyaman di telinga. Bentuk harmoni yang indah itu kemudian diusahakan agar dapat diulang kembali, diperdengarkan lagi, ditirukan, bahkan disebarluaskan. Itulah yang kita kenal sebagai lagu atau nyanyian. Fungsi dan makna nyanyian bagi pendidikan anak-anak. Melihat kegemaran anak-anak menyanyi tentu dengan segenap tingkah lakunya, menerbitkan pertanyaan : apa sebenarnya fungsi dan makna lagu-lagu semacam itu bagi mereka ? sebagai seorang pendidik pertanyaan lumrah ini memang wajib kita cari jawabannya. Sebagai renungan di bawah ini secara garis besar akan kita sebutkan apa makna dan fungsi kegiatan bernyanyi bagi anak-anak, yaitu : 1. Sebagai pendidikan emosi 2. Pendidikan motorik 3. Pengembangan daya imajinasi 4. Peneguhan eksistensi diri 5. Pengembangan kemampuan berbahasa 6. Pengembangan daya intelektual 7. Pengembangan kekayaan rohani dan pendidikan nilai-nilai moral. Mengajarkan lagu pada anak-anak. Untuk dapat mengajarkan lagu pada anak-anak dengan baik, ustadz/ pengasuh anak-anak harus mempersiapkan dan memperhatikan 3 hal : 1. Kesiapan materi lagu. 2. kesiapan emosi 3. Ketepatan situasi. ditulis oleh SDIT SALSABILA PURWOREJO Label: TULISAN KAK WUNTAD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar